Antonius Ari Berani Tampil Beda, “Love What You Do and Found a Way”

Berawal dari mobil hadiah dari sang ayah karena indeks prestasi (IP) perkuliahan bagus, pria kelahiran tahun 76’ ini yang mempunyai nama lengkap Antonius Ari Pratomo langsung coba-coba untuk turun di ranah balap jalur lurus 201 meter yang mengutamakan kecepatan dan ketepan waktu. Awal mula tunggangan jepang menjadi andalan dan mencari pengalaman untuk memacu andrenalin di ranah balap seputar Jawa Tengah, namun seiring jalannya waktu pria yang hobil olahraga dan otomotif ini jatuh hati kepada pabrikan asal Stuttgard, Jerman. Sesuai dengan mobil impian pada saat kuliah yang bermimpi memiliki W202, akhirnya Anton memilih untuk meminang W202. Karena hobi dengan kecepatan, Wikipedia menjadi pedoman untuk mencari tunggangan yang sesuai dengan hobi balapnya. C230 Kompressor menjadi pilihan sebagai tunggangan, karena dinilai mempunyai kecepatan yang mumpuni.

Karyawan swasta umur 40 tahun ini pada awalnya belum tega menggunakan C230 Kompressornya untuk dipacu di ranah balap jalur lurus, karena masih menggunakan produsen jepang sebagai andalan. Namun lambat laun terpikirkanlah, “kenapa gak coba untuk dipake balap aja ya ini C230 Kompressornya, mobil Jepangnya dijual, alokasi dananya kita pindah ke C230 Kompressornya.” Pungkas Anton. Bermodalkan satu set saluran buang dari header hingga muffler untuk increase performance mobil, speed lover ini memacu di event D2 402 meter, 2014 silam pada kelas 17 detik dengan best time siapa sangka tercatat pada 16,7 detik. Tidak puas dengan hasil yang didapat, pria yang juga penikmat video drag race ini upgrade piggybag Q4 dan juga turtle control sekali 2 dan mendapatkan best time di 16 detik kecil. Ketika di tanya, racikan mobil “Semua dilakukan berdasarjan riset sendiri dan tanya-tanya ke senior, dan ketika menyambangi salah satu rumah tuner di daerah Jakararta selatan, ternyata Mercy tahun 97 akhir tekhnologinya sama dengan tekhnologi mobil Jepang keluaran terbaru sekarang, bisa dikatakan mercy tahun 97’ 20 tahun lebih maju di banding mobil jepang terbaru. Jadi kaget banget dan makin cinta sama eropa,” Ungkap Anton.

Dari 5 kali ikut event resmi W202nya yang terdaftar pada MBClubIna varian W202 ini menyabet 2 piala pada dua event terakhir di kelas 18’ detik dan juga 17’ detik, juara 1 dan juara 3. Ketika ditanya target kedepannya, “Target kedepannya inginnya mengambil kelas sebelum Free For All (FFA), yup di kelas 13’ detik aja dulu, karena kita pakai modal sendiri dan pastinya membutuhkan budget dan waktu yang tidak sebentar walau untuk di kelas 13’ detik. Jadi kemungkinan masih akan turun di drag ini 5 tahun kedepan lah.” Tambah Anton. indonesianmodified.com sempat juga bertanya, apakah akan turun di ranah lainnya? “Kepingin sih nyoba turun di Indonesia Sentul Series of Motorsport (ISOM) tapi balik lagi ke budget sih, karena di ISOM tidak hanya mengutamakan mesin, tapi juga kaki-kaki yang tergolong biaya kaki-kaki itu mahal perlu di perhatikan untuk dapat bermanuver dengan baik ketika mengitari sirkuit.” Ungkap Anton.

Berbicara soal suka duka di dunia balapnya, “Sukanya adalah karena mobil yang kita pakai ini beda dari kebanyakan yang orang pakai, biasanya kebanyakan orang pakai jepang, kita pakai eropa. Apalagi ketika dengan kondisi mobil yang terbatas karena kendala budget, tapi bisa naik podium yang membuat kita semakin bangga. Harapannya sih, kita dapet sponsor, apalagi brand yang kita bawa ini besar, Mercedes-Benz dan satu-satunya yang konsisten ikut di event resmi drag. Intinya sih love what you and found a way, tekuninin aja dulu yang lo cinta, nanti juga ada jalannya.” Ungkap Anton.

Setelah bercerita panjang lebar soal balap, ternyata anggota dari MB Club Ina varian W202 ini juga baru tercatat pada Club Non Varian MB Club Ina, alias Mercedes-Benz Diecast Club Indonesia. Yang otomatis mengoleksi Diecast atau modeling Mercy. “Kalo gak salah aku punya sekitar 50 diecast mercy lah, dengan fokus ukuran di 1 : 43. Lumayan lah buat investasi sih hobi yang di gelutin sekarang.” Tutup Antonius Ari Pratomo sambil tertawa lepas.

Antonius Ari Berani Tampil Beda, “Love What You Do and Found a Way”

Berawal dari mobil hadiah dari sang ayah karena indeks prestasi (IP) perkuliahan bagus, pria kelahiran tahun 76’ ini yang mempunyai nama lengkap Antonius Ari Pratomo langsung coba-coba untuk turun di ranah balap jalur lurus 201 meter yang mengutamakan kecepatan dan ketepan waktu. Awal mula tunggangan jepang menjadi andalan dan mencari pengalaman untuk memacu andrenalin di ranah balap seputar Jawa Tengah, namun seiring jalannya waktu pria yang hobil olahraga dan otomotif ini jatuh hati kepada pabrikan asal Stuttgard, Jerman. Sesuai dengan mobil impian pada saat kuliah yang bermimpi memiliki W202, akhirnya Anton memilih untuk meminang W202. Karena hobi dengan kecepatan, Wikipedia menjadi pedoman untuk mencari tunggangan yang sesuai dengan hobi balapnya. C230 Kompressor menjadi pilihan sebagai tunggangan, karena dinilai mempunyai kecepatan yang mumpuni.

Karyawan swasta umur 40 tahun ini pada awalnya belum tega menggunakan C230 Kompressornya untuk dipacu di ranah balap jalur lurus, karena masih menggunakan produsen jepang sebagai andalan. Namun lambat laun terpikirkanlah, “kenapa gak coba untuk dipake balap aja ya ini C230 Kompressornya, mobil Jepangnya dijual, alokasi dananya kita pindah ke C230 Kompressornya.” Pungkas Anton. Bermodalkan satu set saluran buang dari header hingga muffler untuk increase performance mobil, speed lover ini memacu di event D2 402 meter, 2014 silam pada kelas 17 detik dengan best time siapa sangka tercatat pada 16,7 detik. Tidak puas dengan hasil yang didapat, pria yang juga penikmat video drag race ini upgrade piggybag Q4 dan juga turtle control sekali 2 dan mendapatkan best time di 16 detik kecil. Ketika di tanya, racikan mobil “Semua dilakukan berdasarjan riset sendiri dan tanya-tanya ke senior, dan ketika menyambangi salah satu rumah tuner di daerah Jakararta selatan, ternyata Mercy tahun 97 akhir tekhnologinya sama dengan tekhnologi mobil Jepang keluaran terbaru sekarang, bisa dikatakan mercy tahun 97’ 20 tahun lebih maju di banding mobil jepang terbaru. Jadi kaget banget dan makin cinta sama eropa,” Ungkap Anton.

Dari 5 kali ikut event resmi W202nya yang terdaftar pada MBClubIna varian W202 ini menyabet 2 piala pada dua event terakhir di kelas 18’ detik dan juga 17’ detik, juara 1 dan juara 3. Ketika ditanya target kedepannya, “Target kedepannya inginnya mengambil kelas sebelum Free For All (FFA), yup di kelas 13’ detik aja dulu, karena kita pakai modal sendiri dan pastinya membutuhkan budget dan waktu yang tidak sebentar walau untuk di kelas 13’ detik. Jadi kemungkinan masih akan turun di drag ini 5 tahun kedepan lah.” Tambah Anton. indonesianmodified.com sempat juga bertanya, apakah akan turun di ranah lainnya? “Kepingin sih nyoba turun di Indonesia Sentul Series of Motorsport (ISOM) tapi balik lagi ke budget sih, karena di ISOM tidak hanya mengutamakan mesin, tapi juga kaki-kaki yang tergolong biaya kaki-kaki itu mahal perlu di perhatikan untuk dapat bermanuver dengan baik ketika mengitari sirkuit.” Ungkap Anton.

Berbicara soal suka duka di dunia balapnya, “Sukanya adalah karena mobil yang kita pakai ini beda dari kebanyakan yang orang pakai, biasanya kebanyakan orang pakai jepang, kita pakai eropa. Apalagi ketika dengan kondisi mobil yang terbatas karena kendala budget, tapi bisa naik podium yang membuat kita semakin bangga. Harapannya sih, kita dapet sponsor, apalagi brand yang kita bawa ini besar, Mercedes-Benz dan satu-satunya yang konsisten ikut di event resmi drag. Intinya sih love what you and found a way, tekuninin aja dulu yang lo cinta, nanti juga ada jalannya.” Ungkap Anton.

Setelah bercerita panjang lebar soal balap, ternyata anggota dari MB Club Ina varian W202 ini juga baru tercatat pada Club Non Varian MB Club Ina, alias Mercedes-Benz Diecast Club Indonesia. Yang otomatis mengoleksi Diecast atau modeling Mercy. “Kalo gak salah aku punya sekitar 50 diecast mercy lah, dengan fokus ukuran di 1 : 43. Lumayan lah buat investasi sih hobi yang di gelutin sekarang.” Tutup Antonius Ari Pratomo sambil tertawa lepas.